cerpen "2 Merpati"


Aku adalah salah satu makhluk yang diciptakan Tuhan dengan bentuk fisik yang sempurna. Mempunyai mata, hidung, telinga, dan anggota tubuh lainnya dengan lengkap. Tidak ada satu kekurangan-pun pada bentuk fisik tubuhku, dalam kata lain aku tidak cacat. Selain itu, aku juga mempunyai kehidupan yang cukup menyenangkan. Karena aku mempunyai dua sahabat yang sayang kepadaku, seorang pacar yang sangat mencintaiku, dan prestasi belajar yang sangat memuaskan di sekolahku.
Tetapi aku kurang bersyukur atas apa yang telah aku dapatkan, padahal tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang sudah aku raih. Selain itu, aku juga tidak sadar bahwa hidup itu tidak selamanya mulus, ada kalanya kita senang, sakit, susah, dibawah, dan di atas. Seperti halnya roda yang selalu berputar.
Namaku Azzahra Amadita Sari. Sejak kecil aku terlahir normal, tanpa ada cacat sedikitpun. Tetapi, takdir berkata lain. Sekitar satu tahun yang lalu, aku mengalami sebuah kecelakaan mobil. Akibat kecelakaan itu, aku mengalami kebutaan karena terkena pecahan kaca mobil yang menghantam wajahku. Terlebih lagi, aku terkena penyakit yang bernama Sindroma Gullaine-Barre. Sebuah penyakit yang menyerang syaraf tepi yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua kakiku.
Jujur, sedih memang kalau aku memikirkan kenapa hal ini terjadi kepadaku. Aku kira, kehidupanku sebelum dan sesudah kecelakaan sama. Namun, aku salah. Kedua sahabatku yang kukira mau menerima keadaanku yang sekarang, pergi begitu saja meninggalkanku. Begitupun dengan kekasihku. Alasan mereka meninggalkanku-pun sangatlah sepele, yaitu mereka malu mempunyai sahabat atau pacar yang cacat seperti aku.
Disaat aku tahu alasan mereka meninggalkanku karena hal itu, hatiku terasa seperti teriris-iris. Sakit, kecewa, dan marah, itulah yang aku rasakan. Seringkali aku mengeluh kepada Allah, kenapa Allah begitu tidak adil kepadaku? Kenapa Allah membuatku cacat seperti ini, sehingga teman-temanku pergi meninggalkanku. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Kata-kata yang sangat sering aku lontarkan kepada Allah ketika rasa putus asa menguasai diriku.
JJJJJ
Sebulan yang lalu…
Aku duduk terdiam di kursi rodaku, menatap lurus kedepan, walau yang kulihat hanyalah kegelapan belaka. Aku mendengarkan keadaan di sekitarku, sunyi senyap. Aku menggerakkan kursi rodaku, entah kearah mana, tapi yang pasti, aku berusaha mencari meja belajarku dengan meraba-raba sekelilingku. Aku menggerakkan kursi rodaku kesegala arah, sampai akhirnya. BRRAAKK… aku menabrak sesuatu. Aku meraba-raba benda apa yang telah aku  tabrak, dan sangat beruntunglah aku. Ternyata benda yang ku tabrak adalah meja belajarku. Aku membuka laci meja belajarku, mengobrak-abrik semua barang yang ada di dalamnya. Ketika benda yang kucari telah ketemu, aku mengambilnya.
Tanganku gemetar ketika memegang benda tersebut. “Apa aku…Ya, aku yakin akan keputusanku ini.”
Krrek…suara benda yang aku pegang, yang dimana benda tersebut adalah sebuah kutter. Dadaku berdegup kencang, tapi aku yakin akan keputusanku ini. CRRAAT.. darah menetes dari pergelangan tanganku. Aku terdiam, bertanya dalam hati kenapa aku belum juga mati. Dan pada saat itu juga, sebuah ide gila terlintas dipikiranku. Aku memegang kutter dengan sangat erat, bersiap menusukkan kutterku,dan…
“ZAHRA…APA-APAN KAMU??!!” Bentak seseorang. Aku tidak tahu siapa orang tersebut, karena aku tidak begitu mengenal suaranya. Tapi yang pasti, dia mengambil kutter yang kupegang. “Kamu mau bunuh diri?!huh..?!”
“Kalau iya kenapa?” Kataku ketus. “Lagipula, siapa kamu?”
“Aku Farid, tentu kamu masih ingat denganku kan?” Tanyanya dengan nada suara yang lebih lembut dibandingkan ucapannya tadi. Aku terdiam, teringat ketika syukuran ulang tahun perusahaan ayahku. Ya…dia, Farid Sabilach, satu-satunya orang yang waktu itu mengajakku mengobrol tanpa canggung sedikitpun akan keadaanku.
“Ya, aku masih ingat.” Jawabku pelan.”Ngapain kamu kesini?”
“Aku kesini ingin menjengukmu.” Katanya, lalu aku merasa kalau dia memegang tangan kiriku. “Kamu menyayat tanganmu? Kenapa kamu melakukannya?”
“Aku ingin mati! Aku sudah muak dengan kehidupanku yang sekarang! Aku CACAT! Hanya  untuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi saja, aku tidak mampu melakukannya sendiri, aku sekarang tidak bisa sekolah lagi, bahkan tidak ada satu orang pun yang mau menemaniku atau berteman denganku, jadi untuk apa aku hidup?!!” Kataku ketus.
“Mati? Pendek sekali pikiranmu Zahra. Mati bukanlah hal yang patut kamu lakukan hanya karena kamu tidak sanggup menjalani cobaan yang telah diberikan Allah untukmu. Ingat Zahra, kamu toh masih bisa melanjutkan sekolahmu lagi, kamu bisa menuntut ilmu di sekolah khusus penyandang cacat fisik. Selain itu, kamu juga masih mempunyai keluarga yang selalu ada untuk kamu, apapun keadaanmu, dan tentu saja Allah SWT. Dia selalu ada untukmu Zahra.”
“Allah? Apa aku tidak salah dengar? Kalau memang Dia ada untukku, kenapa Dia tidak mengabulkan doa-doaku? Padahal doa-ku hanya satu, aku ingin sembuh. Tidak cacat lagi! Tapi apa?? Bukan kesembuhan yang aku dapat, tapi kekecewaan!!”
“Semuanya butuh proses dan perjuangan. Mungkin saja Allah belum mengabulkan doamu karena kamu sendiri belum mencoba untuk merubah sikap burukmu. Mungkin ini suatu teguran untukmu agar kamu menjadi lebih baik! Asal kamu tahu Zahra, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Jelasnya panjang lebar.
“Tunggu disini, aku mau mengambil obat merah dulu untuk mengobati lukamu.” Kata Farid lagi.
Aku terdiam, termangu, ketika Farid mengatakan semua itu kepadaku. Aku terus memikirkan maksud dari perkatan Farid tadi. Apa iya semua ini adalah suatu teguran dari Allah untukku??
JJJJJ
Citt…Citt… suara kicauan burung memeriahkan suasana pagi hari ini,udara begitu sejuk. Aku tahu kalau sekarang pagi karena beberapa menit yang lalu adzan subuh berkumandang. Aku melaksanakn salat subuh dengan bantuan kakakku, Ka Wina. Selama keadaanku seperti ini, Ka Wina-lah yang selalu membantuku berwudhu dan menunjukkan arah kiblat apabila aku ingin salat.
Sejak kejadian sebulan yang lalu, aku mulai berusaha untuk merubah diri. Bukan karena Farid, aku berusaha merubah sikapku menjadi lebih baik, tetapi karena semua hal yang pernah Farid ajarkan kepadaku. Aku mulai menyadari bahwa aku harus berubah dan aku harus selalu ber-husnudzan kepada Allah SWT dikala Farid mengatakan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Laksana roda berputar ia diumpamakan. Warna-warni kehidupan yang dihasilkan, membawa pesan dan kesan bagi yang memikirkan. Hari ini kesedihan yang didapatkan, mungkin besok kebahagiaan dalam genggaman. Jika keinginan belum terwujudkan, baik sangkalah kepada Allah SWT tetap dipertahankan.
Rasul berpesan, katanya engkau sayang pada-Ku, mengapa ragu untuk mengikutiku. Padahal engkau tahu, islam sesuai sunnah itu agama-Ku. Mungkinkah engkau takut terhina bersama-Ku, atau terusir dari keluargamu, atau takut kehilangan dunia dan teman-temanmu, atau takut terasing ditengah kaummu? Jika benar keridhoan Allah adalah tujuanmu dan keselamatan akhirat adalah cita-citamu, segera benahi sikapmu sebelum ajal menjemputmu. Sebuah kata-kata yang sangat sederhana, tapi mampu menusuk jiwa. Menyadarkan hati yang kalut akan keputusasaan akibat cobaan yang menerpa.
Disaat suara mobil sudah menderu-deru di luar, aku meminta Ka Wina untuk mengantarku ke teras depan.“Sudah diteras nih. Tumben banget, pagi-pagi kamu meminta kakak untuk mengantarmu ke teras. Gak biasanya?” Tanya Ka Wina dengan nada meledek.
“Ah…Ka Wina, aku cuma ingin menghirup udara segar di pagi hari aja, habis kalau di dalam terus kan bosen.” Jawabku.
“Yakin Cuma itu alasannya? Bilang aja kamu lagi nungguin Farid kan?”
“Ih…apaan sih ka…Gak kok, aku gak nungguin Farid.” Elakku.
“Bener nih?” Tanya Ka Wina. “Kamu suka ya sama Farid?”
Aku tersenyum kecil. “Iya deh, iya… Aku emang nungguin Farid. Tapi kalau aku ditanya suka atau gak sama Farid, jujur, aku ga suka sama dia.”
“Kalau kamu emang gak suka, kenapa kamu sangat senang kalau Farid datang?”
“Kerena, orang yang selama ini menyemangatiku, menghidupkan tawaku lagi, dan mengajarkanku akan arti hidup yang sesungguhnya, masih mau menemuiku. Faridlah satu-satunya sahabatku sekarang Ka Wina.”
“Hhh.. Jadi itu alasannya. Sekarang kakak mengerti.” Ujar Ka Wina.” Ekhm.. Orang yang kamu tunggu-tunggu sudah datang tuh.”
“Assalamualaikum…” Salam dari Farid.
“Wa’alaikumussalam…” Jawabku dengan Ka Wina bersamaan.
“Pagi-pagi udah pada duduk-duduk di teras aja nih?!” Ledek Farid.
“Hehe…Iya nih rid, nemenin Zahra. Katanya bosen kalau di dalam terus.” Jawab Ka Wina. “Oya rid, kakak masak dulu ya.”
“Iya ka.” Jawab Farid. Setelah Ka Wina masuk kedalam rumah, aku dan Farid mengobrol dengan serunya. Candaan demi candaan pun keluar dari perkataan yang Farid lontarkan. Tapi ditengah-tengah obrolan, Farid memberikan sesuatu kepadaku.
“Apa ini?” Tanyaku sembari meraba-raba benda apa yang diberikan Farid. “Kain?”
“Bukan, itu jilbab.” Jawabnya. Aku terdiam. Jilbab? Untuk apa Farid memberiku jilbab? Apa dia ingin agar aku memakainya?
“Tidak perlu kamu pakai sekarang. Pakailah apabila kamu sudah siap.” Ujar Farid lagi, seperti tahu apa yang baru saja aku pikirkan.
Aku tersenyum. “Syukron ya Farid buat jilbabnya.”
“Iya sama-sama.” Jawab Farid.
“Aku juga punya sesuatu untuk kamu.” Kataku sambil mengambil gantungan berbentuk merpati dari dalam kantung celanaku. Aku memberikannya pada Farid.”Ini untuk kamu.”
Farid mengambil gantungannya. “Gantungan?”
“Iya, sebenarnya aku punya dua, tapi yang satunya aku simpan. Walaupun hanya sebuah gantungan, tetapi memiliki makna yang sangat istimewa.”
“Apa itu?” Tanya Farid penasaran.
“Kamu pasti tahu kalau merpati itu lambang kesetiaan, aku memberikannya satu untukmu sebagai tanda persahabatan kita. Aku ingin persahabatan kita bisa terjalin untuk selamanya, apapun yang terjadi. Seperti halnya merpati yang setia pada sahabat hidupnya.”
“Jadi itu alasannya. Terima kasih ya. Insyaallah persahabatan kita bisa terjalin untuk selamanya.” Kata Farid.” Zahra, silau nih di luar…Kita masuk kedalam yuk…”
“Iya.” Jawabku. Kemudian Farid mendorong kursi rodaku kedalam rumah.
JJJJJ
Setengah tahun sudah terjalinnya persahabatanku dengan Farid. Sekarang aku mulai mensyukuri apa yang telah aku dapatkan. Aku sangat bersyukur bisa mempunyai sahabat seperti Farid, terlebih lagi aku mendapat kabar gembira. Yaitu, dokter yang menangani penyakitku selama ini mengatakan kalau aku bisa sembuh dari penyakit Sindroma Gullian-Barre yang aku derita, dan aku mendapatkan donor mata.
Sungguh, aku sangat bersyukur atas apa yang aku dapatkan. Ternyata Allah mengabulkan doaku, seperti yang pernah Farid katakan bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa hambanya yang sabar dan tawakal. Namun disisi lain, aku sedih. Kenapa ya Farid sekarang tidak pernah meluangkan waktunya untukku, aku tidak berharap dia main setiap hari kerumahku seperti hari-hari sebelumnya, tapi kan setidaknya dia bisa menelponku.
Padahal aku sangat ingin memberitahukan berita bahagia ini kepadanya. Tapi, yah… mungkin dia sibuk dengan kuliahnya. Aku juga tidak boleh egois kan??!
JJJJJ
Hari ini tepat hari dimana aku akan menjalani operasi mataku, dan tepat hari ini pula aku berharap Farid bisa menemuiku atau sekedar menelponku. Karena sudah satu bulan kita miss contact. Tik tok… Suara jam dinding berdetik, aku masih tetap menunggu Farid. Kata Ka Wina, operasiku akan dimulai pada pukul 10.00 WIB dan kata Ka Wina, sekarang sudah pukul 09.30 WIB. “Farid kemana sih?” Pikirku. Ternyata yang aku harap-harapkan terjadi juga. Ka Wina memberitahuku bahwa Farid memberikan sebuah video lewat e-mailnya Ka Wina. Jujur, aku sedikit kecewa karena Farid hanya mengirimkan sebuah video, tapi ya sudahlah, daripada gak sama sekali. Ka Wina lalu memutar video tersebut.
“Zahra, semoga operasinya lancar aja ya, aku akan mendoakanmu dari sini. Maaf, sudah lama aku tidak menemuimu atau bahkan menelponmu, karena aku sedang sibuk mempersiapkan kepindahanku ke Australia, tentu kamu sudah tahu kan kalau aku mau pindah kuliah di Australia? Bahkan sekarang aku tidak bisa menemuimu hari ini karena opa-ku meninggal dunia. Sekali lagi maafin aku ya Zahra, maaf.” Klik. Hanya suara itulah yang dapat aku dengar, tanpa bisa bertemu dengan Farid.Tapi tak apalah, walaupun begitu berarti Farid masih peduli denganku. Jam mungkin sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, karena dokter membawaku masuk ke ruang operasi. Sebelum operasi dimulai, tidak lupa aku membaca basmallah, meminta keridhoan Allah atas operasi yang akan aku lakukan.
JJJJJ
Tiga hari setelah operasi, tibalah saatnya penutup mataku akan dibuka. Dadaku berdegup keras, apakah aku akan bisa melihat lagi? Tapi aku yakin, aku pasti bisa melihat lagi. Setelah balutan kasa dan kapas yang menutup mataku dilepas, aku membuka mata secara perlahan-lahan. Saat kedua mataku sudah terbuka, secercah cahaya masuk ke dalam retina mataku. Alhamdulillah, aku bisa melihat lagi. Aku dapat melihat kalau didepanku ada mama, papa, Ka Wina, suster, dan seorang dokter, mereka tersenyum kepadaku. Aku-pun membalas senyuman mereka dengan senyuman bahagia.
JJJJJ
Terlihat laptop punyanya Ka Wina tergeletak di meja yang ada di ruang keluarga. Rasa iseng dalam diriku pun muncul. Aku menggerakkan kursi rodaku kearah meja untuk mengambil laptop Ka Wina. Saat kubuka laptopnya, ternyata Ka Wina sedang menyetel sebuah video, tapi di stop. Akupun mengklik play video tersebut dan sebuah gambarpun muncul.
Gambar tersebut adalah gambar seorang laki-laki yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur yang ada di rumah sakit. Dia memakai selang oksigen dan alat pendeteksi detak jantung didadanya. Aku tidak mengenal laki-laki tersebut, tetapi saat di bicara, jantungku berdetak cepat. Aku menonton video tersebut sampai habis, dan tepat pada detik terakhir, Ka Wina datang.
“Zahra! Kamu…” Bentak Ka Wina, dia pergi menghampiriku dan langsung mengambil laptop yang aku pegang. “Apa kamu…”
Bibirku bergetar, aku menapat tajam Ka Wina. “Apa itu Farid ka? Yang di video itu Farid?”
Ka Wina hanya diam, dia menundukkan kepalanya.
“Jawab aku ka… Apa dia Farid?” Tanyaku sekali lagi. “Jawab aku ka!”
“I..I…Iya,dia Farid.” Jawab Ka Wina.
“Dia sakit ka? Sakit apa? Sekarang keadaannya gimana? Kenapa kakak gak pernah ngasih tahu aku kalau dia sakit?”
“I..Iya, dia sakit. Farid sakit kanker paru-paru.” Jawab Ka Wina.” Maafin kakak, kakak gak ngasih tahu kamu kalau Farid sakit karena dia sendiri yang meminta kakak untuk tidak memberitahu kamu.”
“Sekarang keadaannya Farid gimana ka?” Tanyaku cemas.
“Di..Dia..Dia sudah meninggal ra.” Jawab Ka Wina sambil menitikkan air mata.
Nafasku tercekat, jantungku seakan berhenti berdetak saat Ka Wina mengatakan kalau Farid meninggal.”k..kka..kk..kapan?”
“Dia meninggal dua hari sebelum operasimu.”
“Dua hari sebelum operasi?Apa jangan-jangan, mata ini…”
“Ya…Itu matanya Farid. Dia yang mendonorkan mata untukmu ra…”
Seketika itu juga, tangisku pecah. Aku terisak-isak. Tidak mungkin Farid meninggal! Tidak mungkin! Kenapa ya Allah?Kenapa ini harus terjadi? Aku bahkan belum pernah melihat Farid secara langsung ya Allah. Kenapa ya Allah?Kenapa dia harus meninggal?
Aku mengusap air mataku.”Bisa kakak mengantarku ke tempat dimakamkannya Farid?”
Ka Wina Menatapku. “Ya, kakak bisa. Kakak akan mengantarmu ke makamnya Farid.”
Setelah mengambil kerudung, aku bergegas pergi kemakamnya Farid bersama Ka Wina dengan menggunakan mobilnya papa. Sesampainya disana, aku langsung memanjatkan doa untuk Farid, setelah aku mendoakannya, aku menaburkan bunga di makamnya.
Terima kasih Farid atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku, dan kamu ajarkan kepadaku, aku akan selalu mengingatnya. Insyaallah, kita nanti akan bertemu kembali… Pada saat itu aku bisa melihatmu secara langsung dan berterima kasih kepadamu. Walau sekarang aku tidak bisa melihatmu, tapi aku tahu kamu bisa melihatku, dan pada saat itu, kamu akan melihatku memakai jilbab. Karena sekarang, aku sudah siap…






0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Loading...

Entri Populer

Google+ Badge

Google+ Followers

message me here :)


Translate

this is me

Pengikut

Amazon MP3 Clips