Found you

          Aku masih ingat hari itu, hari dimana aku bertemu dengannya. Di sebuah pantai nan eksotik di sebelah barat pesisir pulau Lombok, pantai senggigi namanya. Terik matahari yang begitu menyengat seakan tertututpi oleh lembutnya angin semilir di pantai senggigi, ketika aku turun dari cidomo, sebuah alat transportasi tradisonal Lombok yang mirip dengan delman. Dengan bertelanjang kaki, kunikmati tiap butir pasir putih yang terasa begitu hangat. Pantai senggigi saat itu sedang sepi, tak seramai biasanya. Mungkin karena hari ini bukan waktu untuk liburan. Terbawa suasana, baru kusadari aku telah berjalan terlalu jauh dari pusat keramaian. Tempatku berpijak kini begitu sepi, namun tidak jauh didepanku, ada seorang bule tengah duduk sambil memegangi bagian perutnya.
            Akupun memberanikan diri mendekati bule itu, dan saat kusapa dia, terlihat darah yang hampir kering menghiasi bagian pinggir bibirnya. Ia juga meringis kesakitan tiap kali memegang perutnya. Aku bertanya padanya kenapa ia ada disitu dengan keadaan yang seperti itu. Awalnya ia tidak berkenan untuk menjawab, sampai akhirnya ia-pun membuka suara.
QY
            “Still not lifted as well?” tanyaku. Andrew hanya menggeleng.
            Thomas Andrew Felton, nama bule asal inggris yang kutemukan beberapa hari yang lalu. Ia termasuk bule yang cukup tampan dengan rambut coklat menghiasi kepalanya. Untuk sementara ini ia akan tinggal di hotel tempat aku menginap, tapi tentu saja tidak tidur dengan ku, ia tidur di sofa. Aku hanya sekedar membantunya sampai ia bisa bertemu dengan temannya yang memang sedang berlibur di Yogyakarta. Beberapa hari yang lalu ketika aku menemukannya, Andrew ternyata telah mengalami kejadian buruk. Tas berisi barang-barang berharga miliknya di curi dan ketika ingin merampas tasnya kembali, ia malah dihajar sampai babak belur.
            Setelah mengembalikkan handphone milikku, Andrew beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya ke tepi pantai yang terlihat sangat biru. Arus ombak pantai senggigi yang begitu tenang menyapu kakinya. Sambil melipat kedua tangannya, ia menatap gunung agung dari Bali yang cukup terlihat jelas di seberang sana. Aku yang saat itu tengah duduk di sebuah resto akhirnya ikut beranjak dan melangkahkan kaki menuju tempat Andrew berpijak. Aku berdiri di sampingnya. Hari sudah sore, membuat terik matahari tidak begitu menyengat lagi. Langit yang kini berubah jingga membuat kami betah berlama-lama menikmati pemandangan di hadapan kami. Walau senggigi saat itu tidak begitu ramai, aku masih bisa melihat beberapa turis local dan mancanegara sedang berjemur dan berkano.
            “Tomorrow we get to Batu Bolong right?” tanyaku membuka pembicaraan.
            “Why you are so good with me? I couldn’t keep it blurred and my promise to pay all the money I had borrowed.” Andrew menatapku. Aku tersenyum membalas tatapannya.
            “ I just wanna help you. After all, I’m on vacation here all alone, in the presence of you, Now I have a friend on vacation.” Jelasku seraya menatap lurus kedepan, sambil sesekali menyibakkan rambut yang menutupi wajah terkena hembusan angin. Aku melangkahkan kaki agak ke tengah pantai lalu duduk, membiarkan ombak mengenaiku. Andrew ikut duduk di sampingku, ia tidak berkata apa-apa. Namun timbul keisenganku terhadapnya. Aku menyipratkan air ke wajahnya, sontak ia langsung menoleh dan balik membalasku. Akhirnya kami bermain air layaknya dua orang anak kecil. Tawa kami pun pecah, membuat aku bisa melihat Andrew tertawa. Ia tidak pernah tertawa sejak pertemuan pertama kita,. Jangankan tertawa, tersenyum saja jarang.
QY
            Setelah berjalan kurang lebih setengah jam dari pantai senggigi, sampailah kami di batu bolong. Sebuah pura batu yang di bangun di atas karang yang terletak di tepi pantai. Suara debur ombak yang pecah mengenai batu karang, membuat suasana di batu bolong terasa berbeda dengan pantai senggigi yang begitu tenang. Padahal pura batu bolong masih bagian dari wilayah pantai senggigi.
            Cukup lama aku dan Andrew berkeliling melihat pura. Hari sudah semakin sore, sebelum kami pulang, aku dan Andrew beristirahat sejenak duduk di tepian jalan berbatu menuju batu bolong. Sambil melepas lelah, aku membuka folder di handphone-ku yang berisi foto-foto narsis diriku dengan Andrew. Berulang kali aku tersenyum  setiap melihat hasil jepretan kami itu. Aku-pun memperlihatkannya ke Andrew, ternyata ia juga ikut tersenyum melihat foto-fotonya. Ia juga sempat tertawa melihat fotoku yang paling ancur banget. Di sela tawa kami, aku menawarkan handphone-ku untuk ia pinjam menelepon temannya, tapi ia hanya diam menatap handphone yang aku pegang.
            “Nanti saja.” Ujar Andrew dalam bahasa inggris. Ia menatapku lekat-lekat. Tatapannya seakan berkata padaku, namun aku tidak dapat menafsirkannya. Jantungku juga berdebar keras. aku tahu ini debaran apa, tapi tidak mungkin aku…
            “Kau tahu, di umur-mu yang masih 17 tahun, kau terlihat begitu dewasa.” Andrew membuyarkan lamunanku. “Very unlike me who have 25 years.”
            “Aku dewasa terlalu cepat.” Jawabku. Andrew mengkerutkan keningnya. “Layaknya seorang anak broken home lainnya. Keadaan yang mendewasakanku terlalu cepat bila melihat umurku yang masih masuk dalam kategori remaja.”
            Andrew mengusap punuknya. “I’m sorry to hear that.”
            Aku tersenyum sambil mengangkat kedua bahuku. “It’s ok. No problem.”
            “Apakah itu alasan kenapa kamu datang ke Lombok sendirian?” tanyanya. “Mencoba lepas dari keadaan yang terjadi dan membolos dari sekolah?”
            “Hei.. aku disini untuk berlibur, bukan karena itu. Lagipula aku homeschooling, jadi ada waktu berlebih bagi diriku untuk berlibur.” Aku menepuk bahunya Andrew. “Lebih baik kita kembali ke hotel. Aku lapar, dan aku mau makan makanan khas Lombok. Ayam taliwang dan plecing kangkung. Ayo!”
            Aku beranjak duluan meninggalkan Andrew yang masih duduk. Tiba-tiba saja ia berjalan beriringan di sampingku seraya merangkulku. Jantungku kembali berdebar keras terlebih ketika Andrew menyunggingkan senyum termanisnya dan membisikkan sebuah kalimat di telingaku. “I think… I like you more than just a friend.”
QY
            Hari ini aku dan Andrew menghabiskan waktu kami di Gili trawangan. Salah satu gili yang paling besar dari tiga gili atau tiga pulau yang terletak di sebelah barat pulau Lombok ini, yaitu gili Meno, gili air dan gili trawangan. Hari ini aku ingin merasakan pesta di gili trawangan, karena di gili ini sering sekali diadakan pesta sepanjang malam. Pesta setiap malamnya biasa dirotasi oleh beberapa tempat keramaian.
            Suasana gili trawangan berbeda dengan pantai senggigi yang ombaknya begitu tenang, di sini kita bisa berselancar karena ombaknya yang memang cukup besar. Banyak hal yang kami lakukan sejak sampai di gili ini. Scuba diving, snorkeling dengan pemandangan bawah laut yang begitu indah dan menawan, dan belajar berkuda mengelilingi pulau.
            Aku dan Andrew duduk di pinggir pantai sambil memeluk kedua lutut kami. Memandang garis pantai di ujung sana yang mulai jingga kemerahan. Matahari terbenam perlahan-lahan. Sunset yang indah pikirku, apalagi diiringi alunan music mellow yang terdengar dari café di belakang kami. Debaran ombak yang juga terdengar indah bersamaan dengan semilirnya angin bertiup.
            “Dian…” Panggil Andrew, aku menoleh. Tiba-tiba saja sebuah sentuhan lembut mengenai bibirku dan langsung menjalar ke seluruh tubuh. Aku langsung terpaku begitu Andrew mengecup bibirku. Aku menatapnya lekat-lekat seakan bertanya kenapa dia melakukuan itu.
            “Andaikan waktu berjalan lebih lambat dan berputar sebaliknya. Aku tahu, kau sudah tahu banyak tentang diriku, tapi aku tak ingin semua ini berakhir.” Ia tersenyum parau menatapku. Andrew beranjak dan pergi ke café di belakang kami yang sudah memulai pesta mereka. Aku menggigit bibirku, aku tak bisa berkata apa-apa. Tapi aku senang. Ini liburan terindah dan teromantis yang pernah aku alami.
QY
            Jam digital di meja samping tempat tidurku baru menunjukkan pukul 5.20 pagi, aku beranjak dari tempat tidurku dan melihat Andrew yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya yang ada di samping tempat tidurku. Ia kelelahan setelah semalaman pesta barbekyu dengan turis bule lainnya. Aku membuka pintu tempat aku menginap. Lautan masih terlihat gelap begitu aku membuka pintu. Kurapatkan jaket yang ku pakai sambil duduk di pinggir pantai, bermain pasir menunggu sunrise. Aku melamun memainkan pasir membentuk beberapa kata hingga Andrew datang dan duduk di sampingku.
            “Aku kira panta-pantai di Lombok tak seindah di bali, tapi ternyata aku salah. Walau masih virgin, pantai di Lombok memiliki keindahannya tersendiri di banding pantai-pantai di Bali. Tenang, nyaman dan masih asri sekali.” Andrew tersenyum menatapku. “Aku ingin kita bisa bertemu di lain waktu.”
            Aku mengkerutkan kening dan balik menatapnya. “What do you mean?”
            “Last night I called my friends and they’ll come here today. In the afternoon.” Jelasnya mengagetkanku. Aku menggertakkan gigiku menahan mataku yang sudah pedih agar tidak menjatuhkan air matanya. “Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi waktu memang selalu seperti itu bagi kita. Lagipula, aku tidak ingin merepotkanmu terlalu lama.”
            Aku memalingkan wajahku. Aku menggigit bibirku sambil melihat sunrise yang mulai terlihat di garis pantai. Langit yang tadinya gelap perlahan berubah terang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tahu ini akan terjadi, tapi jangan hari ini. Aku meremas pasir yang kugenggam di salah satu tanganku. Aku menoleh lagi menatap Andrew yang masih melihatku dengan tatapan bersalah. Aku memaksakan diri untuk tersenyum, walau ku tahu bukan senyum tulus yang ku beri melainkan senyum getir.
                        “Lombok itu memang punya berjuta keindahan. Tidak pernah aku berpikir berlibur dengan seseorang yang sangat menyenangkan, walau aku baru mengenalnya dalam lima hari ini. Sudah beberapa kali aku ke Lombok dan baru kali ini, aku bisa menulis sesuatu tentang seseorang di salah satu lembaran cerita liburanku. Terima kasih kamu sudah mau menemaniku di liburanku kali ini dan terima kasih juga kamu… sudah…” aku menggigit bibirku lagi, aku tak sanggup mengatakannya. Aku menghembuskan napas. “Menjadi seorang kakak bagi dirikku selama disini.”
            Aku beranjak pergi meninggalkan Andrew. Aku tidak ingin air mata ini pecah di hadapannya.
QY
            Setelah menempuh perjalanan menggunakan speedboat, sampailah kami di senggigi. Begitu kami turun dari speedboat, seorang perempuan bule tiba-tiba saja datang dan memeluk Andrew, di belakangnya terlihat seorang cowok yang juga bule ,tersenyum melihat Andrew. Setelah berkenalan dengan mereka, baru aku tahu bahwa cewek bule berambut panjang dan berwarna hitam itu bernama Jade, ia adalah tunangannya Andrew. Akhirnya aku tahu siapa yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya Andrew. Aku sebenarnya sudah tahu kalau Andrew itu sudah bertunangan karena aku melihat cincin di jari manisnya. Namun aku terlalu naif untuk berpura-pura tidak tahu akan hal itu. Aku cukup sadar diri melihat umurku yang masih 17 tahun berharap dengan seseorang yang berumur cukup jauh dariku.
Cowok bule yang mengikuti Jade dari belakang tadi namanya Daren, ia sahabatnya Andrew. Mereka terlihat sangat bahagia begitu saling bertemu. Aku juga ikut bahagia tapi juga terlalu sakit melihat itu semua. Di tengah percakapan mereka. yang terdengar begitu mengasyikkan, diam-diam aku berjalan menjauh, pergi menuju hotel tempat aku menginap. Namun ketika aku sudah cukup menjauh dari mereka, Andrew memanggilku. Sebenarnya tubuh ini tertalu berat untuk berbalik, namun akhirnya aku paksakan juga. Andrew berjalan mendekatiku, kurasa hatiku sudah cukup kuat menghadapi akhir dari liburan indahku ini.
Andrew berdiri di hadapanku dan memberikan lembaran uang dollar yang cukup banyak. Ia mengambil tanganku dan menaruhnya semua uang itu di telapak tanganku. “Aku menepati janjiku, ini uang untuk membayar semuanya.”
Aku mengembalikan uang yang ku pegang ke tangannya Andrew. Ia menatapku heran. “Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa dibayar dengan uang. Kau memang sudah meminjam uang dariku untuk beberapa hari ini, tapi semua itu sudah kuanggap lunas. Kau sudah membayarnya tepat disaat kau mau menemaniku ke setiap tempat yang ingin aku datangi, walau kau bersikeras menolaknya.” Aku tersenyum kecil.
“Apa kita bisa bertemu lagi? Aku akan menghubungimu.”
“Drew, di senggigi kita bertemu, dan di senggigi pula kita harus berpisah. Inilah akhir ceritanya… you’ve given me a romantic travel at Lombok, and now, it’s time to you for give it to Jade...
Thank’s for everything, Dian.. I won’t forget you and our story at this place..” Andrew tersenyum seraya berbalik membelakangiku. Ia pergi ke tempat Jade dan Daren berdiri. Kini yang kulihat hanyalah punggungnya yang semakin lama menghilang di tengah kejauhan. Aku tersenyum, hati ini ternyata terasa lebih lega sekarang.
Lombok memang mengagumkan. Menyajikkan sejuta keindahan dan beragam eksotika. Di senggigi aku menemukanmu dan di senggigi juga aku kehilanganmu. Walau hanya lima hari, kau sudah memberikan banyak kenangan, sebuah liburan romantis bagiku. Tawa itu, senyum itu, tatapan itu, dan kecupan itu. Itulah cinta, mudah datang dan pergi…
  

            

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Loading...

Entri Populer

Google+ Badge

Google+ Followers

message me here :)


Translate

this is me

Pengikut

Amazon MP3 Clips